Thursday, 5 December 2013

RT-2013-379
 
UJI FENOTIP HIBRID ANTAR GALUR GENERASI KE-7 SEMANGKA
DI LAHAN MARGINAL

Makful1),  Hendri1), Sahlan1), Sunyoto1) dan Jumjunidang1)

1Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika
 Jl. Solok – Aripan Km. 8, Solok 27301 Sumatera Barat
Telp. (0755) 20137

Jakarta, 7-8 November 2013

ABSTRAK

Teknologi pemuliaan terus berkembang dalam pembentukan varietas unggul baru (VUB). Perubahan sifat keunggulan makin beragam atau makin spesifik, sesuai dengan potensi agroekosistem, masalah setempat, dan preferensi konsumen atau pengguna. Lahan marjinal yang meliputi tanah ultisol, atau disebut juga tanah PMK (Podsolik Merah Kuning), merupakan salah satu jenis tanah yang mempunyai sebaran paling luas di Indonesia, luasnya mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25% dari total luas daratan Indonesia. Lahan marginal dapat dioptimalkan pemanfaatannya dengan menanam tanaman yang adaptif pada daerah marginal dengan serangkaian proses pemuliaan dan adaptasi untuk menghasilkan varietas yang adaptif pada lahan marginal.
Pembentukan varietas hibrida semangka yang adaptif dilahan marginal dimulai dengan eksplorasi dan koleksi varietas unggul teradaptasi dan hibrida superior, kemudian dilakukan penggaluran sampai diperoleh galur murni (galur ke 8 - 9). Tanaman semangka memiliki bunga terpisah antara bunga jantan dan betina sehingga memudahkan kegiatan pemuliaan (penggaluran dan hibridisasi).  
Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Tropika melakukan penelitian tanaman semangka sejak tahun 2005 sampai 2011 Balitbu Tropika  menghasilkan 2 calon varietas hibrida baru semangka (BT1 dan BT2).  Sejak tahun 2009 sampai 2011 Balitbu Tropika melakukan penggaluran dan telah menghasilkan 4 galur semangka generasi ke-7. Hibridisasi antar galur  dilakukan untuk mengetahui kombinasi kemudian dipilih yang unggul untuk dijadikan varietas unggul baru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fenotip hasil persilangan antar galur generasi ke-7 semangka yang dihasilkan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika.
            Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 4 dari 5 hibrid yang diuji hasil persilangan antar galur generasi ke-7 sudah menunjukkan keseragaman karakter (warna dasar kulit buah, pola garis, warna daging buah) yaitu AxSGP, SGPxA, BxSGP dan BT1xSGP sedangkan hasil silangan ExF masih menunjukkan variasi keragaan warna kulit luar 75% medium dan 25% polos, keragaan warna daging buah 75% kuning dan 25% kuning merah.  Persilangan SGPxBT3 memiliki bobot paling berat dibandingkan semua hybrid termasuk pembanding yaitu sebesar 5,10±1,81kg. Nilai TSS (total soluble solid) paling tinggi dicapai oleh persilangan BT5xF yaitu 9,80±0,84(ºBrik) tetapi nilai ini masih dibawah dua pembanding (Amor dan Baginda).

Kata kunci : Hibrid, semangka, fenotip, uji




I.     Pendahuluan
Tanaman semangka memberikan peluang besar untuk dikembangkan terutama pada lahan sawah tadah hujan setelah panen padi sawah. Komoditas ini dapat dijadikan sebagai rotasi dengan tanaman pokok (padi sawah), dan telah terbukti memberikan nilai tambah yang cukup besar. Kebijakan pemerintah dalam pengembangan tanaman hortikultura bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani, pemenuhan gizi, peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi baru bidang hortikultura, dan upaya mencukupi kebutuhan hortikultura di dalam negeri, serta meningkatkan ekspor. Untuk menopang kebijakan tersebut, salah satunya melalui pengembangan komoditas semangka pada wilayah-wilayah potensial atau sentra produksi [1]. Semangka merupakan  buah yang banyak diminati oleh masyarakat baik dalam maupun luar negeri, karena  tanaman ini  mempunyai nilai ekonomis tinggi yang dapat ditanam daerah tropis dan subtropis. Penanaman semangka  tersebar di Asia Tenggara, Afrika, Karibia dan di bagian selatan Amerika Serikat [3].
Teknologi pemuliaan terus berkembang telah terjadi perubahan dan pergeseran paradigma, yaitu tuntutan-tuntutan dalam pembentukan varietas unggul baru (VUB). Perubahan sifat keunggulan makin beragam atau makin spesifik, sesuai dengan potensi agroekosistem, masalah setempat, dan preferensi konsumen atau pengguna [5]. Lahan marjinal yang meliputi tanah ultisol, atau disebut juga tanah PMK (Podsolik Merah Kuning), merupakan salah satu jenis tanah yang mempunyai sebaran paling luas di Indonesia, luasnya mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25% dari total luas daratan Indonesia [7]. Lahan marginal dapat dioptimalkan pemanfaatannya dengan menanam tanaman yang adaptif pada daerah marginal dengan serangkaian proses pemuliaan dan adaptasi untuk enghasilkan varietas yang adaptif pada lahan marginal.
Perakitan kultivar unggul yang mempunyai potensi hasil tinggi dapat dilakukan dengan beberapa cara,antara lain melalui hibridisasi atau persilangan. Persilangan merupakan salah satu upaya untuk menambah variabilitas genetik dan memperoleh genotip baru yang lebih unggul [6].          
Pembentukan galur murni dari hibrid terseleksi (Sn) dengan menanam kembali biji-biji panenan (Sn-1) dari kegiatan sebelumnya. Untuk mengetahui tingkat kemurnian adalah dengan membandingkan keragaan populasi Sn dengan Sn-1 dengan uji peringkat dalam rancangan acak kelompok. Apabila pada tahap ini belum murni maka biji-biji yang dihasilkan dari (Sn) harus ditanam kembali, dan begitu seterusnya sampai dengan diperoleh galur murni sebagai tetua pelestari. Penggaluran diperkirakan sampai dengan generasi S6-S8 [2] .
Pembentukan varietas hibrida semangka dimulai dengan eksplorasi dan koleksi varietas unggul teradaptasi dan hibrida superior, kemudian penggaluran sampai dengan generasi lima (seharusnya hingga generasi 6-8), kemudian dicoba silang dengan varietas bersari bebas (sementara itu penggaluran tetap berlangsung). Hibrid F1 hasil silang puncak pada melon dan populasi pemuliaan lainnya berupa galur. Hibrid F1 hasil silang puncak setelah dievaluasi ditemukan ada beberapa persilangan menunjukkan hibrid vigor, tetapi masih sedikit bervariasi tampilan buahnya [4] .
Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Tropika melakukan penelitian tanaman semangka sejak tahun 2005 sampai 2011 Balitbu Tropika  menghasilkan 2 calon varietas hibrida baru semangka (BT1 dan BT2).  Sejak tahun 2009 sampai 2011 Balitbu Tropika melakukan penggaluran dan telah menghasilkan 4 galur semangka.
Galur generasi ke-7 perlu dievaluasi dan diseleksi untuk mendapatkan tanaman yang stabil secara genetik, serta untuk mengetahui tingkat adaptasi galur tersebut pada lingkungan tertentu. Tanaman semangka menunjukkan stabilitas genetik antara galur ke-5 sampai ke-8 sehingga galur generasi ke-7 penting untuk dievaluasi sambil dilakukan seleksi sesuai dengan idiotipa yang dituju. 
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fenotip hasil persilangan antar galur generasi ke-7 semangka yang dihasilkan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika.

II.  Metode
a.       Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan  Sumani - Balitbu Tropika Solok (Sumbar) dengan ketinggian ± 360 m dpl. Penelitian ini dilaksanakan Bulan Februari – Oktober 2013.



Tabel 1.  Hasil Analisis Contoh Tanah Lokasi Penelitian
No
Lokasi
pH (H2O)
Wakley & Black (C)%
Kjeldahl (N)%
Nisbah C/N
Olsen P2O5 (ppm)
Bray P2O5 (ppm)
HCl25%
P2O5 (mg/
100g)
HCl25%
K2O
(mg/
100g)
1
Sumani (Sumbar)
6,0
1,96
0,21
9
54
32,8
42
58

No
Lokasi
Nilai Tukar Kation (NH4-Acetat 1N, pH 7) cmol/kg
KCl 1N cmol/kg
Ca
Mg
K
Na
Jumlah
KTK
KB%
Al3+
H+
1
Sumani (Sumbar)
19,15
6,51
1,27
1,21
28,14
21,60
>100
0,00
0,00



No
Lokasi
Total (HNO3 + HClO4) (%)
Ket.
P
K
Ca
Mg
Na
S
Fe
1
Sumani (Sumbar)
0,00
0,09
0,88
0,20
0,04
Tidak terdeteksi
0,01




b.      Pelaksanaan Kegiatan
Percobaan dilakukan dengan menanam hasil persilangan antar galur semangka generasi ke-7 dan dua pembanding, analisis yang digunakan adalah metode deskriptif.
Biji direndam di dalam air bersih selama 12 jam agar mengalami imbibisi, kemudian ditiriskan dan dikecambahkan di dalam kantong plastik bening ukuran 1 kg  yang ditiup. Kemudian diletakkan di dalam ruangan dengan penyinaran selama 72 jam pada suhu 37°C sampai kecambah muncul keluar dan berakar. Kecambah di tanam pada kantong plastik bervolume 250 ml yang berisi media campuran tanah dan sekam lapuk dengan posisi bagian titik  tumbuhnya masuk ke dalam media pasir sedalam 3 cm. Benih di tanam di lapang setelah berumur 10 hari dari saat penyemaian.
Prosedur penanaman di lapang berdasarkan pada kaidah rancangan acak kelompok lengkap. Peubah yang diamati terdiri dari karakter : bobot buah, diameter buah, bentuk buah, tebal kulit, kadar gula, jumlah biji, warna daging buah, uji organoleptik terhadap penampilan daging buah, rasa manis, aroma serta persentase penyimpangan pada populasi tanaman yang diamati terhadap  pengamatan di atas.  
Bibit ditanam pada bedengan yang berukuran 8 m x 3 m dan jarak tanam 0,5 m dengan satu bibit/lubang/lajur, dalam 1 bedengan terdapat 2 lajur sehingga dalam satu bedeng terdapat 30 tanaman. Sebelum penanaman, bedengan ditutup dengan plastik mulsa metalik (bagian luar) ukuran 6 m x 1,2 m. Diantara bedengan terdapat saluran drainase berukuran 70 cm x70 cm. Pengelolaan tanaman mengguna­kan pupuk dasar campuran Urea (1.5 g) + TSP (2.0 g) per tanaman diberikan bersamaan waktu tanam. Pupuk lanjutan diberikan dengan interval satu minggu sebanyak 2 gr NPK / tanaman. Pada saat tanaman memasuki fase generatif dilakukan pemupukan NPK dosis 3 gr NPK / tanaman dengan interval satu minggu. Pada saat pembuahan ditambahkan pupuk mikro dalam bentuk mikroplus sejumlah 2 cc/l. Pengendalian hama penyakit dan gulma disesuaikan dengan kebutuhan.
Buah masak fisiologis ditandai dengan adanya retakan disekitar tangkai buah dan kalau dipukul menimbulkan suara bluk-bluk biasanya umur buah sekitar 50 – 55 hari setelah pembuahan. Panen dilakukan dengan memotong tangkai buah dengan pisau/gunting yang tajam  dengan menyisakan tangkai buah pada buah. Buah kemudian dikarakterisasi berdasarkan peubah/kriteria yang telah ditetapkan.
Prosesing biji dilakukan dengan mengeluarkan biji dari dalam buah. Sarkotesta dan lendir dibersihkan dari biji dengan menggosok menggunakan abu gosok dan dicuci dengan air bersih mengalir sampai biji benar-benar bersih. Biji yang telah bersih dikering anginkan. Pada setiap prosesing biji selalu disertai label untuk menghindari tertukarnya identitas biji. Pengepakan biji dilakukan setelah biji benar-benar kering dan telah disortasi dengan membuang biji-biji yang tidak bernas. Pengepakan dilakukan dalam kemasan yang kedap udara dan vakum, kemasan diberi label sesuai dengan identitas biji. Biji yang telah dikemas disimpan dalam suhu dan kelembaban yang sesuai untuk biji semangka.
Peubah Semangka yang diamati:
Terdiri dari karakter : umur panen, bobot buah, bentuk buah,  total padatan terlarut, warna daging buah, corak kulit buah.

III.   Hasil dan Pembahasan

Materi pemuliaan yang digunakan adalah hasil penggaluran pada kegiatan sebelumnya yang rata-rata sudah memasuki generasi ke-7. Empat galur sudah memiliki deskripsi sifat kualitatif yang seragam yaitu BT1, BT3, BT6 dan SGP (Tabel 2). Dua galur masih ada variasi sifat terutama pada warna daging buah yaitu BT5 dan F.




Tabel 2. Keragaan tetua semangka sebagai materi persilangan antar galur.
Hibrid
KARAKTER KUALITATIF
Galur
Bentuk
Warna Kulit
Warna Daging
Corak kulit
BT3
S7
Bulat
Hijau tua
Merah
Lurik tegas
SGP
S7
Bulat
Hijau tua
Merah
Lurik tegas
BT1
S7
Bulat
Hijau
Merah
Lurik tegas
BT6
S7
Bulat
Hijau
Merah
Lurik tegas
BT5
S7
Bulat
Hijau
Kuning/kuning kemerahan
Lurik tegas
F
S5
Bulat
Hijau
Kuning
Lurik tegas
Tabel 3. Keragaan buah semangka hasil persilangan antar galur di lokasi KP. Sumani
Hibrid
KARAKTER (rata-rata)
BERAT (kg)
TSS (ºBrik)
Umur panen
Warna Kulit
Warna Daging
Pola garis
BT3xSGP
4,46±1,20
8,96±1,14
55-60 hari
Hijau tua
Merah
Ada
SGPxBT3
5,10±1,81
9,38±1,06
55-60 hari
Hijau tua
Merah
Ada
BT1xSGP
4,51±0,68
9,40±0,55
55-60 hari
Hijau tua
Merah
Ada
BT6xSGP
4,38±1,11
9,60±0,55
55-60 hari
Hijau tua
Merah
Ada
BT5xF
3,90±0,60
9,80±0,84
50-55 hari
Hijau 75%
Hijau muda 25%
Kuning 75%
Kuning merah 25%
Ada 75%
Polos 25%
Amor (pembanding)
4,94±0,69
9,90±0,22
55-60 hari
Hijau
Merah
Ada
Baginda (pembanding)
4,39±0,59
10,96±0,64
55-60 hari
Hijau
Merah
Ada



Data pengamatan hasil persilangan antar galur semangka galur S7 pada karakter warna kulit buah BT3xSGP, SGPxBT3, BT1xSGP dan BT6xSGP sudah seragam warna kulitnya sedangkan BT5xF belum seragam karakter warna kulitnya (Tabel 3). Variasi karakter dapat berasal dari tetua betina maupun tetua jantan. Pada saat penggaluran alel dominan akan menutupi alel resesif. Alel resesif akan terekspresi jika berkombinasi dengan alel resesif. Keturunan hasil persilangan antar galur bisa untuk mengevaluasi efek daya gabung karakter dari kedua tetua. Warna kulit buah hijau tua dominan terhadap hijau seperti pada fenotip  BT1xSGP dan BT6xSGP dimana tetua betina BT1 dan BT6 warna kulit buah hijau sedangkan tetua SGP berwarna hijau tua, semua F1 berwarna hijau tua baik BT1xSGP maupun BT6xSGP.
Hasil pengamatan pada karakter warna daging tidak ada dominasi karakter dari warna daging yang ada, masing-masing bersifat intermediet baik merah maupun kuning. Hal ini bisa ditunjukkan pada warna daging buah individu hasil silangan yang mengandung warna merah dan kuning, seperti pada persilangan BT5xF. Karakter corak kulit hasil persilangan BT5xF masih bervariasi. Dapat disimpulkan bahwa galur maupun aksesi yang terlibat dalam persilangan diatas belum ada yang homozigot, sehingga penggaluran masih harus dilanjutkan untuk mendapatkan galur yang homozigot untuk karakter-karakter yang diinginkan.
Data pengamatan pola garis sudah seragam untuk 4 hasil silangan yaitu  BT3 x SGP, SGP x BT3, BT1 x SGP dan BT6 x SGP. Berdasarkan pengamatan selama proses penggaluran ada 2 tipe pola garis yaitu berpola dan polos. Pola garis kulit buah berbentuk garis lurik memiliki warna yang lebih gelap dari warna dasar kulit buah ada pada semua hasil persilangan termasuk pembanding, kecuali fenotip persilangan BT5 x F masih ada variasi 25% dari populasi tidak bercorak dan berasosiasi dengan warna kulit buah yang hijau muda.
Data berat rata-rata hasil persilangan SGP x BT3 memiliki bobot paling berat dibandingkan semua hybrid termasuk pembanding yaitu sebesar 5,10±1,81kg. Bobot teringan dimiliki oleh persilangan BT5 x F yaitu 3,90 ± 0,60 kg. Pem banding yang ditanam adalah varietas yang sudah dilepas dengan surat keputusan Menteri Pertanian dan banyak ditanam di lokasi penelitian. Data rata-rata TSS (total soluble solid) hasil persilangan antar galur paling tinggi dicapai oleh persilangan BT5xF yaitu 9,80±0,84 (ºBrik) tetapi nilai ini masih dibawah dua pembanding (Amor dan Baginda)
SGP
BT 3
 


X
 
    X                
BT3XSGP
 










Gambar 1. Skema dan hasil persilangan galur generasi S7 BT3xSGP
SGP,BT 3,SGPXBT3
 
















Gambar 2. Skema dan hasil persilangan galur generasi S7 SGPxBT3
 















Gambar 3. Skema dan hasil persilangan galur generasi S7 BT1xSGP
BT6,SGP,BT6XSGP
 















Gambar 4. Skema dan hasil persilangan galur generasi S7 BT6xSGP
BT5xF,ExF,BT5
 















Gambar 5. Skema dan hasil persilangan galur BT5xF (BT5 galur generasi S7 galur dan F galur generasi S5)
Amor Baginda
 







Gambar 6. Varietas Pembanding

IV.    Kesimpulan :
1.      Keragaan warna kulit buah, warna daging buah dan corak kulit  semangka hasil persilangan antar galur BT3xSGP, SGPxBT3, BT1xSGP dan BT6xSGP seragam sedangkan persilangan BT5xF masih ada variasi sekitar 25%.
2.      Persilangan SGPxBT3 memiliki bobot paling berat dibandingkan semua hybrid termasuk pembanding yaitu sebesar 5,10±1,81kg.
3.      Nilai TSS (total soluble solid) paling tinggi dicapai oleh persilangan BT5xF yaitu 9,80±0,84(ºBrik) tetapi nilai ini masih dibawah dua pembanding (Amor dan Baginda).

Daftar Pustaka
[1] http://sumbar.litbang.deptan.go.id : Pesisir Selatan berpeluang kembangkan semangka setelah padi sawah, publikasi 29 Juli 2010.
[2] Lower, R.L., and P.D. Edwards. 1986.  Cucumber Breeding: In: Bassett, M.J. (ed.) Breeding Vegetables Crops. pp. 173-207. AVI Publishing Company, Inc., Westpot, Connecticut.
[3] Meldia, Y, Makful, Kuswandi, Sahlan, dan Hendri.2011. Pengenalan dan evaluasi stabilitas calon varietas unggul  baru semangka dan melon di sumbar dan riau.Laporan Akhir DRN.
[4] Purnomo, S. B., Suprianto, Mahayoni dan Y,. Ardana. 2000. Pemebentukan galur generasi lanjut dan uji silang melon dan semangka. Laporan penelitian. 15 halaman.
[5] Rubiyo, Suprapto, dan A. Darajat.2005. Evaluasi Beberapa Galur Harapan Padi Sawah di Bali. Buletin Plasma Nutfah 11(1):6-10
[6] Takdir A.M., R. N. Iriany ., N. A. Subekti, Muzdalifah, dan Marsum.2006. Evaluasi daya gabung hasil 28 galur jagung dengan tester MR4 dan MR14 di Malang dan Bajeng.J.Agrivigor 5 (2):173-181
[7] Subagyo, H., N. Suharta, dan A.B. Siswanto. 2004.Tanah-tanah pertanian di Indonesia. hlm.21−66. Dalam A. Adimihardja, L.I. Amien,F. Agus, D. Djaenudin (Ed.). Sumberdaya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor.